Jika Tuntutan Tak Dikabulkan BPN, Warga Kampung Sawah Ancam Tutup Jalan Cacing

Gambar Gravatar
November 5, 2020-News

Nasional.id, Jakarta – Ribuan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Sawah, RW 11, Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing mengancam akan melakukan penutupan Jalan Cakung-Cilincing (Cacing) jika tuntutan yang disampaiakan kepada Kepala Kantor BPN Jakarta Utara tak dikabulkan.

Ketiga tuntutan tersebut antara lain, penerbitan sertifikat tanah yang telah diajukan melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Langsung (PTSL) pada tahun 2018 lalu. Kemudian pembayaran tanah terdampak pembangunan tol dan yang terakhir mempertemukan oknun yang mengaku pemilik tanah dengan warga Kampung Sawah.

“Kami akan menunggu jawaban atas tuntutan warga dari BPN Jakarta Utara hingga pada tanggal 12 November 2020. Jika tidak ada jawaban juga maka kami akan melakukan aksi kembali dengan menutup Jalan Cacing Raya,” tegas Kuasa Hukum Warga RW 11, Semper Timur Abdulah Gamal usai melakukan pertemuan dengan Kepala Kantor BPN Jakatta Utara Hiskiya Simarmata di Kantor BPN Jakarta Utara, Kamis (05/11/2020).

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan warga Kampung Sawah RW 011 Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara menggeruduk Kantor Badan Pertanahan Nasional (Atr/BPN) Jakarta Utara, Jalan Melur, Koja, Kamis (05/11/2020).

Mereka menuntut BPN segera menerbitkan hasil Program Pendaftaran Tanah Sistematis Langsung (PTSL) yang telah dilakukan proses selama dua tahun.

Warga yang tinggal selama 30 tahun di Kampung Sawah merasa kecewa lantaran pengajuan PTSL yang dilakukan pada tahun 2018 lalu hingga saat ini sertifikat belum juga diterima ratusan warga.

Ketua RW 11 Kelurahan Semper Timur Abu Bakar mengatakan, saat ini tanah yang ditempati warga selama 40 tahun tersebut terkena rencana Jalan Tol. Warga meminta menggati rugi yang sepantasnya dengan nilai harga tanah.

Namun saat ini kata Abu, tanah yang mereka tempati tersebut ada oknum yang mengaku memiliki surat tanah tersebut berupa Girik padahal surat Girik tidak dalam lokasinya. (ED/NS)

Komentar