2 Anak SMA ini Disuruh Buka Celana Oleh Dukun Untuk Mengusir Roh Halus

Gambar Gravatar
Agustus 19, 2020-Kriminal, Ragam

Nasional.id, Mataram, NTB – Seorang pria berinisial BD (43) warga Desa Sandik, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, diringkus Polisi.

Pria tersebut diduga telah mencabuli dua orang pelajar SMA yang masih kakak adik, berinisial NR (18) dan IR (13).

Modus pelaku saat melancarkan aksinya berdalih untuk mengusir roh roh halus di tubuh korban.

Peristiwa pencabulan itu terjadi di rumah korban di Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Kamis sore 13 Agustus 2020, sekira pukul 16.00 WIB.

Menurut Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Kadek Adi, kejadian bermula saat orangtua korban meminta pelaku mengobati kedua korban agar tidak melihat hal hal gaib dan tidak terbiasa termenung.

Pelaku lalu minta bahan bahan yang akan digunakan pada ritual pengobatan itu seperti kencur, daun sirih, tebu dan beberapa lainnya.

“Selanjutnya, korban diminta masuk ke dalam kamar secara bergilir,” ungkap Kadek Adi, Selasa (18/8).

Korban pertama diminta makan tebu, kemudian pelaku menaikkan baju korban lalu mencium dan menghisap pusar korban hingga merah, membuka celana korban lalu menggerayangi tubuh korban.

Korban kedua juga begitu, pelaku mencium kedua pipi, bibir, mencium dan mengemut pusar, menyuruh membuka celana sambil mengemut pusar korban.

Perbuatan bejat pelaku terungkap saat sang kakak melihat pelaku mencium pusar adiknya. Korban lalu berteriak dan didengar oleh warga dan juga bapaknya.

Seketika warga berkerumun lalu beramai ramai menganiaya pelaku, beruntung polisi segera ke lokasi kejadian mengamankan pelaku.

“Setelah diamankan lalu diintrogasi, pelaku mengakui semua perbuatannya. BD juga mengaku baru pertama kali melakukan perbuatan cabul itu, alasannya karena tidak tahan melihat kemolekan tubuh korban,” ungkap Kadek Adi.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) juncto pasal 76e Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. (br/ns)

Komentar